Memahami Capaian Pembelajaran
Bagaimana Prinsip dan Gambaran Kurikulum Merdeka serta bagaimana memahami Capaian Pembelajaran yang Mendalam.
Pada era pendidikan yang terus berkembang, Kurikulum 2013 telah mengalami perubahan menjadi Kurikulum Merdeka yang mengusung konsep Merdeka Belajar. Kurikulum Merdeka bertujuan untuk menciptakan pembelajaran yang bermakna, menyenangkan, dan sesuai dengan kebutuhan serta potensi setiap murid. Salah satu aspek penting dalam Kurikulum Merdeka adalah capaian pembelajaran atau CP. Capaian Pembelajaran adalah kompetensi dan karakter yang ingin dicapai setelah menyelesaikan pembelajaran dalam kurun waktu tertentu.
Capaian pembelajaran dalam Kurikulum Merdeka memiliki tujuan yang serupa dengan kompetensi inti dan kompetensi dasar dalam Kurikulum 2013. Namun, dalam Kurikulum Merdeka, capaian pembelajaran lebih dititikberatkan pada aspek kompetensi inti dan konten esensial. Hal ini bertujuan untuk mendorong proses pembelajaran yang mendalam, di mana murid lebih fokus pada pemahaman konsep dan penerapan pengetahuan, daripada sekadar mengejar penuntasan konten yang terlalu rinci.
Pembagian capaian pembelajaran dalam Kurikulum Merdeka didasarkan pada fase perkembangan murid. Pada jenjang SD, capaian pembelajaran terbagi dalam tiga fase, yaitu
- fase A untuk kelas 1-2,
- fase B untuk kelas 3-4, dan
- fase C untuk kelas 5-6.
Pada jenjang SMP, murid berada pada
- fase D dan fase E untuk kelas 10, serta
- fase F untuk kelas 11 dan 12.
Sedangkan, pada jenjang PAUD, fase pondasi disiapkan untuk mempersiapkan murid agar siap memasuki fase capaian pembelajaran.
Setiap fase dalam capaian pembelajaran memiliki rentang waktu pembelajaran antara 1 hingga 3 tahun. Rentang waktu ini memberikan kesempatan yang lebih luas bagi murid untuk menguasai kompetensi yang ada dalam capaian pembelajaran pada setiap fase.
Selain itu, rentang waktu yang lebih panjang juga memberikan fleksibilitas bagi guru untuk menyusun strategi pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik unik setiap murid.
Pembagian capaian pembelajaran dalam fase-fase tersebut didasarkan pada tahapan perkembangan murid. Konsep ini mengacu pada teori perkembangan kognitif anak oleh Jean Piaget, yang mengemukakan bahwa perkembangan kognitif berlangsung melalui empat tahapan, yaitu :
- sensorimotor (0-2 tahun),
- praoperasional (2-7 tahun),
- konkret operasional (7-11 tahun), dan
- formal operasional (11 tahun ke atas).
Dalam capaian pembelajaran pada Kurikulum Merdeka, guru mempertimbangkan tahapan perkembangan kognitif murid saat menyusun dan mengembangkan kompetensi yang ingin dicapai pada setiap fase. Sebagai contoh, dalam mata pelajaran matematika, capaian pembelajaran pada fase-fase awal jenjang SD difokuskan pada pemahaman dan pengenalan berbagai bentuk bangun datar.
- Pada fase A, murid diperkenalkan dengan berbagai bentuk bangun datar dan dapat mempresentasikannya melalui kata-kata.
- Pada fase B, murid mulai mampu membandingkan ciri-ciri berbagai bentuk bangun datar secara konkret.
- Pada fase C, murid dapat mengklasifikasikan berbagai bentuk bangun datar sesuai dengan ciri-cirinya.
Pada jenjang SMP, capaian pembelajaran lebih menekankan pada penerapan konsep yang lebih abstrak.
- Pada fase D, murid diperkenalkan pada konsep abstrak seperti pembuktian teorema Pythagoras dengan berbagai cara.
- Pada fase E, murid diajak untuk memecahkan persoalan matematika yang lebih abstrak, misalnya terkait dengan segitiga siku-siku.
- Pada fase F, murid mengarah pada penerapan konsep yang lebih kompleks, seperti menerapkan teorema tentang lingkaran.
Dalam penyusunan capaian pembelajaran, tidak hanya menggunakan teori perkembangan kognitif anak, tetapi juga mengadopsi pendekatan konstruktivisme. Konstruktivisme merupakan teori belajar yang menekankan pada proses membangun pengetahuan baru oleh murid melalui pengalaman, interaksi sosial, dan refleksi. Menurut pendekatan ini, murid aktif dalam menemukan pengetahuan mereka sendiri berdasarkan kemampuan awal, pengalaman belajar, dan interaksi sosial yang mereka miliki.
Dengan pendekatan konstruktivisme, pembelajaran diarahkan untuk membangun pemahaman dengan menciptakan karya atau produk. Melalui proses menciptakan, murid perlu memiliki pengetahuan dan keterampilan yang terkait dengan kompetensi yang ingin dicapai. Misalnya, dalam membangun denah rumah, murid perlu memahami cara mengukur ruangan, menghitung skala, dan sebagainya. Dalam hal ini, kemampuan memahami ada di level yang paling tinggi dalam Taksonomi Bloom, sedangkan kemampuan mencipta berada di puncaknya.
Pendekatan konstruktivisme juga memperhatikan keragaman kemampuan awal dan pengalaman belajar setiap murid. Sebagai hasilnya, setiap murid dalam kelas dapat membangun pemahaman dan pengetahuan mereka sendiri secara unik. Guru memiliki peran penting dalam memfasilitasi proses pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik unik setiap murid.
Dalam Kurikulum Kurikulum Merdeka, capaian pembelajaran yang disusun berdasarkan prinsip dan gambaran tersebut bertujuan untuk mendorong proses pembelajaran yang mendalam dan bermakna. Dengan memfokuskan pada kompetensi inti dan konten esensial, capaian pembelajaran tidak terlalu terburu-buru dalam menyelesaikan konten yang terlalu rinci. Guru memiliki ruang yang lebih fleksibel untuk memfasilitasi pembelajaran yang mendalam dan sesuai dengan kebutuhan dan minat murid.
Dalam pembelajaran yang mendalam, murid didorong untuk berpikir kritis, mengembangkan kemampuan pemecahan masalah, berkolaborasi, dan mengkomunikasikan ide-ide mereka. Murid diajak untuk terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran, bukan hanya sebagai objek pasif yang menerima pengetahuan dari guru. Dalam hal ini, capaian pembelajaran bukanlah sekadar pencapaian hasil akhir, tetapi juga proses pembelajaran yang terlibat di dalamnya.
Dalam merdeka belajar, murid diberikan kebebasan untuk menggali potensi dan minat mereka sendiri. Mereka dapat memilih dan menentukan jalur pembelajaran yang sesuai dengan minat mereka, baik dalam memilih mata pelajaran, topik, atau metode pembelajaran yang paling efektif bagi mereka. Dalam hal ini, capaian pembelajaran juga memberikan kesempatan bagi murid untuk mengembangkan minat, bakat, dan potensi mereka secara lebih baik.
Dalam Kurikulum Merdeka, evaluasi juga berfokus pada proses pembelajaran, bukan hanya hasil akhir. Guru memberikan umpan balik yang konstruktif kepada murid untuk membantu mereka memperbaiki pemahaman dan keterampilan mereka. Evaluasi juga dilakukan secara berkelanjutan, melalui berbagai bentuk penilaian yang mencakup berbagai aspek kompetensi yang ingin dicapai.
Secara keseluruhan, Kurikulum Merdeka dengan capaian pembelajaran yang mendalam bertujuan untuk menciptakan pembelajaran yang bermakna, menyenangkan, dan sesuai dengan kebutuhan serta potensi setiap murid. Dengan pendekatan konstruktivisme dan penerapan prinsip merdeka belajar, diharapkan murid dapat mengembangkan pemahaman dan pengetahuan yang lebih mendalam, serta membangun keterampilan dan karakter yang diperlukan untuk menghadapi tantangan di dunia nyata.