Apa itu anthrax? dan Bagaimana mengatasinya ?

Apa itu anthrax? dan Bagaimana mengatasinya ?

 

Anthrax adalah sebuah penyakit yang mungkin terdengar asing bagi sebagian orang, namun memiliki sejarah panjang dalam dunia kedokteran. Anthrax adalah penyakit yang mematikan yang dapat mempengaruhi berbagai jenis hewan, termasuk hewan ternak seperti sapi. Dalam artikel ini, kita akan menjelajahi lebih lanjut tentang anthrax, termasuk dampaknya pada hewan ternak sapi, gejala, penularan, dan upaya-upaya pengendalian. Informasi ini didasarkan pada pengetahuan dalam bidang Biologi dan berbagai sumber referensi terpercaya.

Apa itu Anthrax?

Anthrax, juga dikenal sebagai penyakit “karbon/Arang” atau “milzbrand”, adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Bacillus anthracis. Istilah ini digunakan karena munculnya lesi kulit berwarna hitam akibat infeksi antraks bentuk kutaneus. Bakteri ini memiliki sifat yang sangat unik dan memainkan peran penting dalam studi mikrobiologi. Bakteri ini dapat membentuk spora yang sangat tahan terhadap kondisi lingkungan. Spora-spora ini dapat hidup dalam tanah dan bahan organik untuk waktu yang lama. Ketika hewan sapi terpapar dengan spora anthrax, bakteri dapat aktif dan mulai berkembang biak, menghasilkan toksin yang berbahaya.

luka-infeksi-anthrax

Bagaimana Bacillus anthracis Bekerja?

Bacillus anthracis, bakteri penyebab anthrax, memiliki sifat yang unik dan kompleks dalam cara kerjanya. Berikut adalah gambaran umum tentang bagaimana Bacillus anthracis bekerja:

  1. Penetrasi dan Kolonisasi:
    Bacillus anthracis dapat memasuki tubuh manusia atau hewan melalui tiga jalur utama: kulit, pernapasan, atau saluran pencernaan. Ketika spora bakteri masuk ke dalam tubuh, mereka akan berada dalam bentuk dormant (tidak aktif) dan tahan terhadap kondisi lingkungan yang keras. Spora ini akan bergerak ke jaringan yang lebih dalam dan mulai mengaktifkan diri saat kondisi yang menguntungkan tersedia.
  2. Proliferasi dan Pelepasan Toksin:
    Setelah spora Bacillus anthracis aktif, bakteri tersebut akan mulai berkembang biak dalam tubuh. Mereka akan memproduksi dan melepaskan toksin yang sangat berbahaya yang terdiri dari tiga komponen utama: edema toksin, toksin létal, dan toksin protektif.

    • Edema Toksin: Edema toksin merangsang produksi cAMP (cyclic adenosine monophosphate) yang berlebihan dalam sel tubuh. Hal ini menyebabkan peningkatan aliran darah, kerusakan pembuluh darah, pembengkakan jaringan, dan menghambat fungsi sistem kekebalan tubuh.
    • Toksin Létal: Toksin létal adalah enzim yang merusak molekul sinyal yang mengatur respons imun tubuh dan menghambat pertahanan tubuh terhadap infeksi. Hal ini dapat menyebabkan peradangan yang parah dan kerusakan jaringan.
    • Toksin Protektif: Toksin protektif membantu melindungi Bacillus anthracis dari respons imun tubuh dan memfasilitasi penyebaran bakteri ke jaringan lain dalam tubuh.
  3. Dampak pada Tubuh:
    Toksin-toksin yang dihasilkan oleh Bacillus anthracis memiliki efek merusak pada tubuh. Mereka dapat menyebabkan peradangan, kerusakan sel dan jaringan, gangguan aliran darah, dan penurunan fungsi organ. Hal ini dapat mengakibatkan gejala yang parah dan potensi kematian jika tidak diobati.
  4. Sporulasi dan Penyebaran:
    Selama infeksi yang berat atau setelah kematian inang, Bacillus anthracis dapat membentuk spora yang tahan lama. Spora-spora ini dapat dilepaskan ke lingkungan melalui jaringan yang terinfeksi atau melalui proses penguraian jasad yang mati. Spora yang dilepaskan ini dapat bertahan dalam tanah atau bahan organik dan menjadi sumber infeksi untuk hewan atau manusia di masa mendatang.

Bagaimana Gejala Anthrax pada Manusia?

Antraks paling sering menyerang herbivor-herbivor liar dan yang telah dijinakkan. Penyakit ini bersifat zoonosis yang berarti dapat ditularkan dari hewan ke manusia, tetapi tidak dapat ditularkan antara sesama manusia.

Gejala dan tanda-tanda penyakit anthrax pada manusia dapat bervariasi tergantung pada bentuk infeksinya. Berikut adalah gejala yang umum terkait dengan setiap bentuk infeksi anthrax:

  1. Cutaneous Anthrax (Anthrax Kulit):
    • Lesi kulit yang muncul sebagai benjolan merah yang berubah menjadi borok dengan pus yang terbentuk di tengahnya.
    • Borok biasanya tidak terasa sakit, namun dapat berkembang menjadi nyeri dan terbakar.
    • Lesi tersebut dapat berkembang menjadi keropeng yang kering dan membentuk kerak yang hitam dan dalam.
  2. Inhalational Anthrax (Anthrax Pernapasan):
    • Awalnya, gejala seperti flu ringan, termasuk demam, menggigil, sakit kepala, dan kelelahan.
    • Setelah beberapa hari, gejala pernapasan yang lebih serius muncul, seperti batuk berdahak, sesak napas, nyeri dada, dan pusing.
    • Infeksi ini dapat berkembang menjadi pneumonia yang parah atau infeksi darah yang menyebabkan syok septik.
  3. Gastrointestinal Anthrax (Anthrax Saluran Pencernaan):
    • Gejala awal termasuk mual, muntah, demam, nyeri perut, dan diare berdarah.
    • Kondisi ini dapat berkembang menjadi peradangan usus yang parah, pendarahan internal, dan syok.

Penting untuk diingat bahwa gejala-gejala ini mungkin tidak selalu spesifik untuk anthrax dan dapat mirip dengan penyakit lain.

Bagaimana Proses Penyebaran dan Penularan Anthrax ?

Penyebaran dan penularan penyakit anthrax dapat terjadi melalui beberapa jalur yang berbeda.

1. Penyebaran dalam Lingkungan:
Bacillus anthracis, bakteri penyebab anthrax, dapat membentuk spora yang tahan terhadap kondisi lingkungan yang ekstrem. Spora-spora ini dapat ditemukan dalam tanah dan bahan organik seperti bulu, rambut, atau tulang hewan yang telah mati akibat anthrax. Jika ada kegiatan seperti pertanian, konstruksi, atau penggalian yang mengganggu tanah atau bahan-bahan tersebut, spora anthrax dapat terganggu dan dilepaskan ke udara.

2. Penularan melalui Hewan Ternak:
Hewan ternak, seperti sapi, dapat terinfeksi anthrax melalui konsumsi pakan atau air yang terkontaminasi oleh spora Bacillus anthracis. Sapi yang memakan rumput atau makanan yang terkontaminasi spora anthrax dapat terinfeksi dan menjadi sumber penularan lebih lanjut. Selain itu, sapi juga dapat terinfeksi melalui kontak dengan hewan lain yang terinfeksi atau dengan lingkungan yang terkontaminasi.

3. Penularan melalui Produk Hewan:
Manusia dapat terinfeksi anthrax melalui konsumsi produk hewan yang terkontaminasi, seperti daging atau produk susu dari hewan ternak yang terinfeksi. Proses pemrosesan dan pengawetan yang tidak memadai pada produk hewan yang terinfeksi juga dapat menjadi sumber penularan anthrax.

4. Penularan melalui Kontak Langsung:
Kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi anthrax, baik hidup maupun mati, juga dapat menyebabkan penularan penyakit ini. Sentuhan dengan kulit, darah, atau jaringan hewan yang terinfeksi dapat memungkinkan bakteri masuk ke dalam tubuh manusia melalui luka, luka gores, atau lecet pada kulit.

5. Penularan Pada Manusia:
Manusia dapat terinfeksi anthrax melalui tiga jalur utama:
– Cutaneous Anthrax (Anthrax Kulit):
Penularan terjadi melalui kontak langsung dengan spora anthrax pada luka terbuka atau luka lecet pada kulit.
– Inhalational Anthrax (Anthrax Pernapasan):
Penularan terjadi melalui inhalasi spora anthrax yang ada di udara terkontaminasi.
– Gastrointestinal Anthrax (Anthrax Saluran Pencernaan):
Penularan terjadi melalui konsumsi makanan yang terkontaminasi spora anthrax.

Penting untuk diingat bahwa anthrax tidak dapat menular dari orang ke orang secara langsung (kecuali dalam kasus jarang yang melibatkan penularan allograft, seperti transplantasi organ). Namun, potensi penyebaran spora anthrax dalam lingkungan atau melalui produk hewan dapat menjadi risiko bagi masyarakat.

 

 

Siklus-anthrax
Siklus penyebaran Anthrax di Lingkungan

Dampak pada Hewan Ternak Sapi?

Sapi sangat rentan terhadap infeksi anthrax. Mereka dapat terinfeksi melalui paparan langsung dengan spora anthrax yang ada di lingkungan, termasuk melalui makanan atau air yang terkontaminasi. Infeksi anthrax pada sapi dapat menyebabkan gejala seperti demam tinggi, kelelahan, nafsu makan berkurang, kesulitan bernapas, dan kadang-kadang perdarahan. Kematian dapat terjadi dalam waktu singkat setelah gejala muncul.

Bagaimana Penularan Anthrax pada Sapi?

Penularan anthrax pada sapi terjadi ketika mereka mengonsumsi atau menghirup spora anthrax atau terpapar melalui luka atau kerusakan kulit. Sapi juga dapat terinfeksi melalui kontak dengan hewan yang terkena anthrax, seperti ternak yang mati akibat penyakit tersebut. Selain itu, serangga seperti lalat dan serangga penggigit darah juga dapat berperan sebagai vektor dalam penularan anthrax pada sapi.

Upaya-upaya Pencegahan dan Pengendalian:

Untuk mencegah dan mengendalikan penyebaran anthrax, langkah-langkah pencegahan yang tepat perlu diimplementasikan. Di antaranya adalah:

  1. Vaksinasi:
    Terdapat vaksin yang tersedia untuk pencegahan anthrax pada manusia dan hewan. Vaksinasi pada hewan ternak dapat membantu mengurangi risiko penularan penyakit ke manusia.
  2. Pengawasan Hewan:
    Memantau kesehatan hewan ternak secara rutin, mendeteksi adanya kasus anthrax, dan mengambil tindakan cepat untuk mengendalikan penyebarannya.
  3. Kebersihan dan Sterilisasi:
    Menjaga kebersihan lingkungan, termasuk pengolahan limbah yang tepat, serta memastikan sterilisasi alat dan peralatan yang digunakan dalam industri yang berisiko.
  4. Proteksi Pekerja:
    Memberikan pelatihan dan perlindungan yang tepat kepada pekerja di industri yang berhubungan dengan risiko anthrax, termasuk penggunaan peralatan pelindung diri.
  5. Edukasi Masyarakat:
    Mengedukasi masyarakat tentang ancaman anthrax, gejala, penyebaran, dan langkah-langkah pencegahan yang dapat diambil untuk menghindari infeksi.

Upaya Pengendalian Anthrax pada Hewan Ternak Sapi:

Pengendalian anthrax pada hewan ternak sapi sangat penting untuk mencegah penyebaran penyakit ini ke manusia dan melindungi populasi ternak. Beberapa upaya pengendalian yang dilakukan antara lain:

  • Vaksinasi:
    Vaksin anthrax tersedia dan sering diberikan kepada hewan ternak, termasuk sapi. Vaksinasi dapat membantu melindungi sapi dari infeksi dan mengurangi risiko penyebaran penyakit ke manusia.
  • Pengawasan Hewan:
    Deteksi dini dan pemantauan kesehatan ternak sapi sangat penting. Sapi yang terinfeksi harus diisolasi dan diberikan perawatan yang tepat. Kematian yang tidak biasa pada ternak perlu segera dilaporkan ke otoritas kesehatan hewan setempat.
  • Penanganan Jenazah:
    Jenazah ternak sapi yang diduga terinfeksi anthrax harus diperlakukan dengan hati-hati dan prosedur yang tepat. Jenazah harus dihilangkan dengan cara yang aman dan dihancurkan dengan mematuhi pedoman dan peraturan sanitasi yang berlaku.
  • Kebersihan dan Sterilisasi:
    Menjaga kebersihan kandang dan area pemeliharaan sapi sangat penting. Pengelolaan limbah ternak yang baik, termasuk pemrosesan dan pembuangan yang tepat, dapat membantu mencegah penyebaran spora anthrax.
  • Edukasi Peternak:
    Memberikan edukasi kepada peternak tentang ancaman anthrax, gejala, dan langkah-langkah pencegahan yang dapat diambil sangat penting. Peternak perlu diberi pengetahuan dan pemahaman tentang tanda-tanda anthrax pada sapi, serta tindakan yang harus diambil jika ada kecurigaan infeksi.

Kesimpulan:

Anthrax merupakan penyakit yang mematikan dan dapat mempengaruhi hewan ternak sapi. Penyebaran anthrax pada sapi dapat berdampak serius terhadap populasi sapi dan juga menimbulkan risiko penularan ke manusia. Oleh karena itu, penting untuk mengambil langkah-langkah pencegahan dan pengendalian yang tepat, termasuk vaksinasi, pengawasan kesehatan hewan, penanganan jenazah yang aman, serta menjaga kebersihan dan sterilisasi lingkungan peternakan. Edukasi kepada peternak juga menjadi faktor kunci dalam upaya mencegah dan mengendalikan penyakit ini.

 

Referensi:

  1. Centers for Disease Control and Prevention. (2021). Anthrax. Diakses dari: https://www.cdc.gov/anthrax/index.html
  2. World Health Organization. (2019). Anthrax. Diakses dari: https://www.who.int/en/news-room/fact-sheets/detail/anthrax
  3. Dixon, T. C., Meselson, M., Guillemin, J., & Hanna, P. C. (1999). Anthrax. New England Journal of Medicine, 341(11), 815-826.

 

 

 

 

 

 

Teacher

Unleashing the potential of education through technology.

You might also like